Bisnis Cuan ala "Pengangguran"

img-1670459909.jpgDodo Suhada (44), mengaduk adonan pupuk kandang, sekam, tanah subur dan pasir di atas selembar plastik terpal dengan tangan telanjang. "Perbandingannya 1:1:1:1 alias sama rata. Ini nanti kita tutup dulu dengan karung selama seminggu agar percampuran merata," papar guru olahraga di sebuah SMP di Depok itu, kepada Warta Koperasi, Ahad (4/12) lalu.

img-1670459598.jpg

"Adonan ini untuk media tanam, kita taruh dalam pot-pot untuk ditanami bibit anggur," imbuh Dodo.

Dua tahun menekuni bisnis pembibitan anggur, adalah waktu yang paling mengasyikkan bagi ayah dua anak itu. "Bibit kecil umur dua bulan saya jual antara Rp 75 ribu hingga Rp 125 ribu per bibit, tergantung varian anggurnya. Untuk yang dalam pot dan siap dibuahkan ini, minimal Rp 300 ribu per pot," ujar Dodo sembari menunjuk pot berukuran 45 liter dengan bibit anggur setinggi tak lebih dari 80 sentimeter yang tampak subur. "Ini anggur varian Jupiter. Gampang sekali berbuah. Rasanya unik, manis dengan aroma harum dan rasa seperti permen," terang Dodo.

img-1670459628.jpg
Dari bisnis pembibitan anggur skala rumahan ini, Dodo mampu menangguk setidaknya Rp 5 juta per bulan. "Saya belum bisa intensif, sebab masih ngajar juga di sekolah," imbuh Dodo.

Senada Dodo, Dzulqornain, juga adalah seorang "pengangguran", istilah di kalangan hobiis dan praktisi tanaman anggur di Indonesia.

Pemuda asal Banjarnegara yang sudah 3 tahun menekuni  usaha produksi dan penjualan bibit anggur itu, menawarkan beragam komoditas berbasis anggur. "Saya jual stek anggur import, entres, juga bibit siap tanam. Untuk stek anggur ada macam-macam. Stek biasanya ada dua macam. Untuk ditanam dan dibuahkan (own root) dan untuk dijadikan batang bawah (root stock)," papar Dzulqornain.

img-1670459782.jpg
Harga stek anggur berbeda untuk varian lokal dan import. "Stek varian lokal macam Isabella, red master, atau Caroline black rose, biasa kita jual per kilo. Sekitar Rp 80 ribu - Rp 100 ribu per kilonya," papar Dzul. Adapun jenis import, masih menurut Dzul, harganya lebih tinggi. "Jenis Dogridge, Creola negra, atau Ramsey, kisaran Rp  30 ribu per 5 batang seukuran spidol kecil sepanjang 30 sentimeter dengan 3 mata tunas".

Dzulqornain banyak menerima pesanan dari berbagai kota di Indonesia. "Tidak masalah untuk packing nya. Harga bibit belum termasuk ongkos kirim. Saya juga punya toko online di Marketplace," terang Dzul.
Dari usaha pembibitan yang hanya mengandalkan pekarangan rumahnya ini, Dzul mampu mengantongi hingga Rp 8 juta per bulan.


Berkomunitas Agar Berkembang

Lima tahun terakhir, komunitas-komunitas "pengangguran" terus bertumbuh seiring maraknya bisnis dan hobi budidaya anggur.
"Saya dan teman-teman hobiis dan niaga tanaman anggur di Jakarta bergabung ke komunitas untuk meningkatkan kemampuan kami dalam hal budidaya dan niaga," papar Lukman, pegiat Komunitas Anggur Jakarta.

img-1670459961.jpg

Lukman sendiri, mengaku membudidayakan belasan varian anggur import. "Saya membudidayakan anggur import yang pasarnya juga bagus. Ada transfigurastion, Akademik, Harold, Jupiter, Halloween, dll. Harga di pasaran sekitar Rp 125 ribu per bibit umur dua bulanan," imbuh Lukman kepada Warta Koperasi yang menemuinya, akhir pekan lalu.

Dedi Saputra, pembudidaya anggur dari Komunitas Anggur Bogor, juga mengaku sangat terbantu dengan eksistensi komunitas pembudidaya anggur di kotanya.
"Jika kita usaha sendiri, jaringan pemasaran kita jadi terbatas. Kalau berkomunitas, kita jadi tahu kota-kota mana yang pasarnya potensial. Komunitas juga jadi tempat yang untuk belajar dan kumpul dengan sesama "pengangguran" haha," ujar Dedi. (Teks dan foto : Priono).

Kategori
WIRAUSAHA

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar