MASYARAKAT DUNIA BARU, DARI PERSAINGAN KE PERSEKUTUAN
Oleh: Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)
Wajah dunia hari ini semakin sulit dibaca sebagai sekadar rangkaian peristiwa politik yang berdiri sendiri. Konflik bersenjata, perang dagang, krisis ekonomi, hingga ketegangan geopolitik yang meluas, seringkali dipahami sebagai kejadian-kejadian yang terpisah. Padahal, jika ditarik ke dalam kerangka analisis yang lebih dalam, seluruh gejala itu sesungguhnya berakar pada satu fondasi yang sama, yaitu watak masyarakat dunia yang kapitalistik dan didominasi oleh logika persaingan.
Di sinilah relevansi pemikiran Profesor Ferdinand Tönnies (1855 - 1936),yang menuliskan tentang penjenisan masyarakat menjadi penting. Dalam teorinya, Tönnies membedakan dua bentuk dasar masyarakat: Gemeinschaft (paguyuban) dan Gesellschaft (patembayan). Gemeinschaft adalah masyarakat yang dibangun atas dasar kedekatan, solidaritas, dan rasa kebersamaan. Sementara Gesellschaft adalah masyarakat yang ditopang oleh hubungan rasional, kontraktual, dan kepentingan individual.
Jika kita melihat dunia hari ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masyarakat global telah bergerak terlalu jauh ke dalam bentuk Gesellschaft. Relasi antarnegara tidak lagi didasarkan pada ikatan moral atau solidaritas kemanusiaan, melainkan pada kalkulasi untung-rugi yang dingin. Dalam logika ini, negara bukan lagi sahabat, melainkan kompetitor. Dunia bukan lagi ruang hidup bersama, melainkan arena pertarungan.
Konsekuensinya nyata. Ketika relasi dibangun atas dasar persaingan, maka konflik menjadi keniscayaan. Dalam skala kecil, persaingan melahirkan ketegangan. Dalam skala besar, ia menjelma menjadi peperangan.
Logika ini sangat terlihat dalam dinamika perdagangan global. Persaingan dagang yang pada awalnya dipahami sebagai mekanisme untuk meningkatkan efisiensi ekonomi, perlahan berubah menjadi instrumen dominasi. Negara-negara berlomba memperkuat daya saingnya, bukan hanya melalui inovasi dan produktivitas, tetapi juga melalui kebijakan proteksionis, manipulasi pasar, hingga tekanan politik.
Ketika negosiasi ekonomi tidak lagi mampu memenangkan kepentingan, maka kekuatan politik dan militer mulai digunakan. Inilah titik di mana Gesellschaft mencapai bentuk paling ekstremnya: relasi yang sepenuhnya instrumental, di mana kekuatan menjadi penentu utama.
Perang dagang antara kekuatan besar dunia menjadi contoh nyata bagaimana persaingan ekonomi dapat berkembang menjadi konflik geopolitik. Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga menyeret negara-negara lain, terutama yang lemah, ke dalam pusaran tekanan. Kebijakan tarif sepihak, embargo, hingga pembatasan akses pasar adalah bentuk-bentuk nyata dari dominasi dalam sistem yang mengagungkan persaingan.
Dalam situasi yang lebih ekstrem, konflik ini bahkan bermetamorfosis menjadi perang terbuka. Perang yang terjadi di berbagai belahan dunia hari ini tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai konflik kedaulatan semata. Ia adalah manifestasi dari perebutan pengaruh, sumber daya, dan dominasi dalam sistem global yang kompetitif.
Dengan demikian, perang bukanlah anomali dalam sistem ini, melainkan konsekuensi logisnya. Selama dunia diorganisasi berdasarkan prinsip persaingan, maka konflik akan terus berulang dalam berbagai bentuk.
Persoalannya, dunia tampak semakin kesulitan keluar dari jebakan ini. Upaya-upaya perdamaian yang dilakukan seringkali hanya menghasilkan kompromi sementara, tanpa menyentuh akar persoalan. Dunia seolah hanya mampu menambal retakan, tanpa pernah benar-benar memperbaiki fondasinya.
Di sinilah kritik terhadap dominasi Gesellschaft menjadi relevan. Tönnies tidak hanya menggambarkan dua tipe masyarakat, tetapi juga memberi kita kerangka untuk memahami arah perubahan sosial. Ketika masyarakat terlalu didominasi oleh relasi yang impersonal dan kompetitif, maka ia akan kehilangan kohesi sosialnya. Dalam konteks global, ini berarti dunia kehilangan rasa kebersamaan sebagai satu komunitas umat manusia.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang akan terjadi adalah fragmentasi yang semakin dalam. Dunia akan terpecah menjadi blok-blok kepentingan yang saling berhadapan. Dalam situasi seperti ini, perdamaian bukan lagi tujuan bersama, melainkan sekadar jeda di antara konflik.
Karena itu, dunia membutuhkan arah baru. Sebuah transformasi mendasar dari masyarakat global yang berbasis persaingan menuju masyarakat yang berbasis kerjasama. Dengan kata lain, dunia perlu bergerak kembali, atau setidaknya mendekat, ke bentuk Gemeinschaft dalam skala global.
Namun, ini bukan berarti kembali ke masa lalu secara romantik. Gemeinschaft yang dimaksud bukanlah masyarakat tradisional dalam arti sempit, melainkan suatu tatanan baru yang mengedepankan solidaritas, resiprositas, dan kepentingan bersama dalam konteks masyarakat modern.
Doktrin kerjasama harus menjadi antitesis dari dogma persaingan yang selama ini mendominasi. Kerjasama tidak boleh lagi sekadar menjadi jargon dalam perjanjian internasional, tetapi harus menjadi substansi yang nyata. Selama ini, banyak perjanjian yang disebut sebagai “kerjasama” sebenarnya adalah bentuk terselubung dari persaingan. Ia dirancang untuk membuka pasar, memperluas pengaruh, dan memenangkan kepentingan nasional masing-masing pihak. Akibatnya, hubungan internasional tetap berada dalam kerangka Gesellschaft, meskipun dibungkus dengan retorika kerjasama.
Untuk membangun masyarakat dunia baru, diperlukan perubahan paradigma yang mendasar. Hubungan antarnegara harus dibangun di atas kepentingan yang benar-benar resiprokal bukan sekadar simetris di atas kertas. Ini berarti setiap pihak harus memperoleh manfaat yang adil, bukan sekadar keuntungan maksimal bagi yang kuat.
Langkah ini dapat dimulai dari hubungan bilateral yang lebih jujur dan setara. Dari sini, kerjasama dapat diperluas ke tingkat regional, dan kemudian ke tingkat global. Namun, yang terpenting bukanlah skala kerjasama, melainkan kualitasnya. Tanpa perubahan substansi, perluasan kerjasama hanya akan memperluas arena persaingan.
Dalam konteks ini, peran negara-negara berkembang menjadi sangat penting. Selama ini, mereka seringkali menjadi objek dalam sistem global yang kompetitif. Namun, justru dari posisi inilah mereka memiliki kepentingan terbesar untuk mendorong perubahan. Dengan membangun solidaritas dan kerjasama yang lebih kuat di antara mereka, negara-negara ini dapat menjadi kekuatan penyeimbang dalam sistem global.
Lebih jauh lagi, masyarakat sipil global juga harus mengambil peran. Dunia tidak bisa hanya bergantung pada negara sebagai aktor utama. Gerakan sosial, organisasi internasional, dan komunitas lintas negara memiliki potensi besar untuk membangun jaringan kerjasama yang lebih humanis.
Pada akhirnya, diujung jaman edan yang semuanya menaruh pada hubungan sumbu pendek ini kita musti memberikan jawaban pada dunia dan masa depannya. Kita tidak boleh biarkan terus hidup dalam dogma persaingan yang melahirkan konflik dan peperangan. Kita musti kembalikan logika kerjasama yang membuka jalan bagi perdamaian.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap sistem memiliki batasnya. Kapitalisme dengan doktrin persaingannya mungkin telah dianggap membawa kemajuan dalam banyak hal, tetapi ia juga membawa kontradiksi yang semakin sulit diselesaikan. Ketimpangan, konflik, dan krisis yang berulang adalah tanda-tanda bahwa sistem ini membutuhkan koreksi.
Masyarakat dunia baru yang kita bayangkan bukanlah utopia yang mustahil. Ia adalah kebutuhan yang mendesak. Tanpa perubahan arah, dunia akan terus bergerak dari satu konflik ke konflik lainnya, dari satu krisis ke krisis berikutnya.
Dalam kerangka pemikiran Tönnies, ini adalah pilihan antara memperdalam Gesellschaft atau mulai membangun kembali elemen-elemen Gemeinschaft dalam kehidupan global. Pilihan ini bukan hanya soal teori, tetapi soal masa depan umat manusia.
Jika dunia ingin keluar dari lingkaran konflik, maka tidak ada jalan lain selain membangun persekutuan baru yang didasarkan pada kerjasama yang sejati. Sebuah masyarakat dunia setara (genossenscaft), di mana kekuatan tidak lagi menjadi alat dominasi, tetapi sarana untuk saling menguatkan. Di situlah harapan bagi masyarakat dunia baru dapat ditemukan.***
Komentar