Seminar INKUR : Koperasi Sebagai Bisnis Berkarakter Sosial

Ditengah kepungan dunia bisnis dan ekonomi yang kapitalistik, koperasi menjadi oase penyeimbang. 

Selain memiliki keunggulan yang unik, koperasi adalah entitas bisnis yang berkarakter sosial. Karakter ganda koperasi inilah yang telah mendorong terwujudnya keadilan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di banyak negara. 

Hal tersebut terungkap dalam Seminar Konsultasi Internasional dengan thema "Koperasi Membangun Demokrasi Ekonomi Berkelanjutan" 13 April lalu, di Jakarta.

Seminar diinisiasi oleh Induk Koperasi Usaha Rakyat ( INKUR Federation) anggota International Cooperative Alliance ( ICA) dalam platform kerjasama organisasi masyarakat sipil dunia C20 untuk dialog politik dalam forum G20 Indonesia.  

Howard Brodsky sebagai CEO dan Ketua Koperasi CCA Global Partner, dan ketua Working Group ICA untuk G20  katakan " Koperasi berbeda dengan perusahaan kapitalis dan tempatkan orang sebagai yang utama, koperasi telah buktikan bahwa demokrasi, kesetaraan dapat bekerja efektif dalam bisnis". 

Setidaknya saat ini menurut ICA ada 1,2 milyar orang di bumi adalah kooperator  atau jadi pemilik koperasi dari 3 juta koperasi tingkat primer di seluruh dunia. Koperasi telah memberikan pekerjaan kepada 10% dari angkatan kerja di dunia. Dari tiga ratus koperasi  terbesar dunia  telah menghasilkan omset 2.146 miliar USD.

Osaku Nakamo, dari Japanesse Worker Cooperative Union ( JWCU) mengatakan " koperasi telah memberikan pekerjaan yang layak bagi banyak orang di semua negara". 

Secara sektoral koperasi juga tidak hanya bergerak di sektor ritel kecil kebutuhan sehari hari namun jasa keuangan seperti perbankkan, asuransi, sektor pangan dan bahkan ke dalam layanan publik seperti kesehatan. Mereka adalah layanan yang nyaman bagi banyak orang karena sistem kepemilikan layanan kesehatan itu juga dimiliki oleh para pasienya. 

Dalam sektor keuangan misalnya, bank bank koperasi  yang dimiliki nasabahnya seperti Bank Agricole, Desjardin Bank, telah menjadi bank kelas dunia dan mereka bahkan menjadi bank bank terbaik di negaranya. 

Bhima Subrahmanyam, Presiden International Cooperative Banking Association ( ICBA) mengatakan " untuk mendorong sistem keuangan berkelanjutan memiliki tantangan internal dan eksternal. Tantangan eksternal yang penting adalah bagaimana koperasi itu ada dalam kebijakan fiskal dan juga moneter. Termasuk di dalamnya rekognisi bank sentral, ketersediaan subsidi dalam fiskal dan lain lain". 

Carlos Zarko, presiden International Health Cooperative Organization (IHCO), salah satu organisasi sektoral koperasi kesehatan ICA mengatakan " koperasi kesehatan di seluruh dunia tak hanya telah ikut membantu untuk melayani para pasien Covid 19 secara baik, tapi juga mendorong mitigasi dampak sosial dan ekonominya" tegasnya. 

Tak hanya berhasil dalam bisnis, koperasi juga telah banyak mengatraksi hal penting dalam pengembangan peran pemuda, perempuan, penyandang disabilitas dalam konteks pembangunan yang inklusif. 

Eva Sundari, dari INKUR Federation mengatakan " koperasi telah mendorong keadilan gender dalam arti yang luas, tak hanya mendorong peranan perempuan tapi juga pemuda, difabel dan mereka yang rentan, koperasi dengan nilai nilai dan prinsip utamanya telah mendorong bagaimana ciptakan keadilan dalam sistem pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan". 

Dalam konteks kepedulian lingkungan, Ditambahkan oleh Eva Sundari, mengenai kepedulian gerakan koperasi itu dengan contoh  Koperasi NTUC Fair Price yang kuasai 55 persen pangsa pasar ritel di Singapura. " ketika terjadi krisis akibat kebakaran hutan dan sebabkan asap dimana mana, koperasi ini melakukan protes keras dengan membuang tisu di jalanan, sementara perusahaan ritel swasta lain melihatnya hanya sebagai keuntungan. Ini bukti bahwa koperasi itu dihidupi oleh nilai yang tinggi untuk menjaga planet", tegasnya. 

Sementara itu Maftuchan, sebagai  ketua Sherpa C20 dan Direktur Eksekutif PRAKARSA mengatakan " Di bawah kepresidenan Indonesia, C20 berkomitmen untuk mengadvokasi rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Isu prioritasnya didasarkan pada seruan global yang mendesak untuk menyelesaikan masalah sosial ekonomi yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari kesejahteraan pekerja migran dan kelompok rentan, akses vaksin COVID-19, pemberdayaan perempuan, hingga transisi energi dan koperasi memiliki peran strategis dan penting untuk ini". 

Federasi INKUR, sebagai salah satu anggota International Cooperative Alliance (ICA) di Indonesia, memimpin proses untuk memastikan suara dan prioritas koperasi dimasukkan dalam diskusi kelompok kerja C20 tahun ini setelah ditolak oleh Working Group Bussiness 20 ( B20). Koperasi memiliki banyak hal untuk ditawarkan dalam hal kontribusi terhadap kebaikan  ekonomi, masyarakat, dan lingkungan. 

Model bisnis koperasi telah membuktikan dirinya selama lebih dari 250 tahun sebagai katalis untuk diversifikasi ekonomi, keberlanjutan, dan pertumbuhan bagi masyarakat pedesaan dan masyarakat adat. Koperasi telah menunjukkan ketahanan di saat krisis ekonomi dan keuangan pada krisis kesehatan yang sedang berlangsung akibat pandemi covid-19. Koperasi terbukti menjadi bisnis dan mitra yang dapat diandalkan.

Koperasi sejak 2016 telah diakui  dalam inisiatif pembangunan global seperti  putusan PBB dokumen hasil Rio+20, Dokumen Hasil Pembiayaan Pembangunan dan Agenda PBB 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Dalam hal inilah Federasi INKUR bekerja sama dengan ICA dan Working Group C20 untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Kemanusiaan menyelenggarakan kegiatan di bawah kerangka C20 untuk mengevaluasi kontribusi utama terhadap SDGs oleh koperasi vis-à-vis prioritas C20.

Acara berjalan dengan lancar dengan dimoderatori oleh Mahfirlana Mashadi, aktifis koperasi Indonesia dan Robby Tulus mantan Regional Director ICA Asia Pasifik dari Canada. Kegiatan seminar tersebut dihadiri oleh 146 orang yang berasal dari perwakilan organisasi masyarakat sipil dari 56 negara. (Prio/foto : Prio) 


 

Kategori
NASIONAL

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar