Filosofi “Ojo Dumeh” dan Relevansi Perilaku Konglomerasi Qarun dan Diktator Firaun


Oleh : Prof. Dr. Agustitin Setyobudi

Ojo Dumeh dalam bahasa Indonesia sehari-hari artinya ‘jangan mentang-mentang’.  Ojo dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya). Ojo dumeh kuwasa (jangan mentang-mentan berkuasa). Ojo dumeh pinter  dan sebagainya.

Dalam budaya Jawa memang banyak diutarakan dalam bentuk larangan dari pada anjuran. Ojo turu sore-sore (jangan tidur sore) yang maksudkan agar orang selalu tirakat di malam hari. Ojo laku ngiwo (jangan berjalan ke kiri) maksudnya jangan berlaku atau berbuat yang tidak baik*

Kalau ada nasihat yang diawali dengan kata ‘ojo’ maka kita harus mencari makna afirmatif (anjuran) yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan nasihat ‘ojo dumeh’  yang akan kita bahas kali ini.

‘Ojo dumeh’ atau jangan mentang-mentang tidak sekedar menganjurkan ‘orang yang lebih’ untuk tidak pamer kelebihannya kepada ‘orang yang kurang’. Orang juga sering mengartikan‘ojo dumeh’ dengan anjuran untuk berlaku sopan atau hormat kepada yang kurang dari dia agar orang tidak tersinggung.

Arti ‘ojo dumeh’ lebih dari sekedar ajuran berperilaku hormat. ‘Ojo dumeh” menganjurkan agar orang peduli kepada orang lain. Kalau kita mempunyai kelebihan, misanya kekayaan, kekuasaan dan ilmu, maka gunakanlah itu untuk membantu orang.

Sikap ‘ojo dumeh’ didasarkan pada kenyataan bahwa jalannya kehidupan itu bagaikan roda yang berputar. Setiap titik pada roda akan mengalami perubahan posisi, dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. Pada waktu kehidupan kita di atas, jangan lupa bahwa pada saatnya nanti akan berputar dan berada di bawah. Dengan demikian, nasihat ‘ojo dumeh’ juga memberi makna agar orang tidak lupa hari esok. Ojo dumeh kaya lalu boros, tidak menabung untuk hari esok. Ojo dumeh berkuasa lalu tidak ingat hari pensiun yang tanpa kekuasaan.

Kata yang sebenarnya pendek tetapi mempunyai arti yang begitu luas. Bagi orang jawa kata tersebut mengandung filosofi yang tinggi untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ojo Dumeh mengandung arti bahwa kita (manusia) janganlah selalu membangga-banggakan apa yang telah dimiliki baik berupa ketenaran, harta benda, pangkat / jabatan, kecantikan, ketampanan, dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan contoh.

Semua itu tidaklah kekal bagi pemiliknya, semua itu adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa yang suatu saat pasti akan dimintanNya kembali. Ojo dumeh sugih (Jangan mentang mentang kaya), Ojo dumeh ganteng /ayu (Jangan mentang mentang ganteng/cantik), Ojo dumeh duwe pangkat terus sewenang-wenang (Jangan mentang mentang punya jabatan terus sewenang-wenang,red) dan masih banyak lagi ungkapan ojo dumeh yang dapat kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, dalam hal jabatan jangan mentang-mentang punya jabatan manager terus dia sewenang-wenang kepada bawahanya, perintah seenaknya, asal bentak, karena siapapun dia (bawahan,red) adalah sama sebagai karyawan jabatan hanya membedakan tanggung jawabnya saja.

Jangan sampai kesewenang-wenangan itu menjadikan rasa benci dan dendam di kalangan bawahan yang nantinya mungkin bisa jadi bumerang ketika sudah tidak dipercaya lagi oleh perusahaan karena sebuah kesalahan / kebodohan kerja. Ketika anda jatuh semua bawahan anda pasti bertepuk tangan dan mentertawakan kejatuhan anda dan sehabis itu anda sudah tidak ada teman lagi karena semua telah tersakiti oleh ulah anda sebagai manager.

Juga dalam hal kekayaan jangan mentang-mentang seseorang diberi kekayaan yang berlebih terus berbuat semaunya kepada oarang miskin, berkata yang menyakitkan, mengumpat, pelit, kikir, sombong mungkin bagi sebagian yang suka dengan sinetron Islam KTP tokoh Bang Madit Musyawaroh bisa dijadika contoh. Mentang-mentang lahir sudah terlanjur kaya setiap ketemu orang dikata katain miskin, blangsak, duafa, kaum marginal, kismin, madesu, kecebong anyut, bahlul dll. Jangan kira kekayaan dan kejayaan yang dimiliki bisa kekal, karna semua itu bisa hilang dalam sekejap bisa karna bencana atau musibah. Bisa saja ludes terbakar, terseret banjir bandang, diterjang tsunami, tanah longsor atau habis untuk biaya berobat kerumah sakit yang disebabkan sakit yang kronis.

Dalam hal ketampanan atau kecantikan bisa saja membuat seseorang menjadi sombong, suka menghina, pilih-pilih teman, menyia-nyiakan orang yang buruk rupa. Ojo dumeh duwe rupo ayu / bagus terus daksio karo wong liyo (jangan mentang-mentang punya wajah cantik/ganteng terus semena-mena sama orang lain) karna ketampanan/kecantikan itupun bisa luntur hanya karna hal sepele misalkan, jatuh dari pohon kaki jadi pincang, jatuh dari motor wajah jadi hancur karena bergesekan dengan aspal, musibah kebakaran yang menyebabkan kulit muka melepuh.

Ungkapan “ojo dumeh” itu sebagai filosofi dalam kehidupan kita, jangan sampai kita terjebak oleh silaunya gemerlap kehidupan dunia. Ajaran ojo dumeh menyarankan kepada kita agar jangan sampai kelebihan yang kita miliki menjadikan kita sombong, takabur, lupa diri dan bertindak sewenang-wenang kepada orang lain dan merendahkan harkat dan martabatnya. Jangan sampai kelebihan yang kita miliki malah menjadikan bumerang bagi diri kita karna yakinlah tak ada yang abadi di dunia ini, apa yang kita miliki pastilah akan lenyap atas kehendakNya.

Mari kita bawa ungkapan ojo dumeh tersebut kedalam kehidupan kita agar kita bisa lebih mawas diri, lebih bersyukur, lebih bisa menghargai orang lain dan tentunya akan membuat kita bisa lebih arif menyikapai kelebihan dan kekurangan kita.

Atas dasar filosofi diatas Semestinya manusia bersifat tawadhu’ (rendah hati) karena bentuk ujian dari Allah SWT bukan hanya berupa kemiskinan dan kesusahan. Ujian dari Allah SWT bisa berwujud kekayaan, ketampanan, kejayaan dan berbagai bentuk kesenangan lainnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Tawadhu adalah termasuk akhlak para Nabi dan sombong adalah termasuk akhlak orang kafir dan fir’aun”.

” Orang sombong dikatakan berakhlak layaknya orang kafir“

Dari segi bahasa kafir berarti menolak atau mengingkari. Orang sombong sebenarnya termasuk kafir karena ia menolak kebenaran bahwa segala bentuk keni’matan yang ada pada dirinya sejatinya semua titipan Allah SWT. Ia merasa bahwa semua itu milikinya, ia merasa bahwa semua itu adalah hasil jerih payahnya.

Kenapa orang sombong dikatakan berakhlak layaknya fir’aun? Ramses III (Fir’aun) adalah penguasa kejam yang diktator. Dengan kekuasaan yang ada pada dirinya ia berlaku semena-mena di muka bumi. Setelah Nabi Musa a.s menasihatinya untuk menghambakan diri pada Robb pencipta alam, dengan sifat angkuhnya Fir’aun menolak. Bahkan karena kesombongannya dalam kekuasaan ia mengaku bahwa dirinya Tuhan yang bisa mengatur hidup mati seseorang.

Akhirnya sang diktator ditenggelamkan di lautan. Sebenarnya Fir’aun tahu akan kebenaran ajaran Nabi Musa a.s, namun karena keangkuhan dan kesombongannya ia tidak mengakui kebenaran dakwah tersebut. Hingga nyawa telah sampai di tenggorokan, barulah ia mengakui kebenaran seruan Nabi Musa a.s. Namun iman yang seperti ini sudah tidak diterima lagi. Telah habis masa waktu Fir’aun untuk memilih diantara iman dan kafir. Tiba saatnya ia sekarang menghadap Robbnya untuk mempertanggungjawabkan kekuasaan yang dititipkan Robb semesta alam pada dirinya.

Disamping Fir’aun, masih ada sang milyader Qorun yang dibinasakan karena keserakahannya. Orang yang tamak serta kikir itu akhirnya ditelan oleh bumi. Ia tenggelam bersama harta yang selama ini ia bangga-banggakan dalam himpitan bumi. Karena berlimpahnya harta, ia justru lupa sedekah dan lupa akan ajaran agamanya. Ada pula sang paman dari Nabi Muhammad SAW yang sombong karena menolak ajaran Islam.

Namanya tercatat menjadi nama salah satu surat dalam Al Qur’an. Namun ia tercatat bukan dalam hal baik. Ia tercatat justru sebagai peringatan bagi manusia setelahnya agar jangan seperti dirinya yang akhirnya diganjar dengan kecelakaan yang membinasakan. Kisah ketiga tokoh di atas sering kita dengar baik dari lisan guru ngaji, maupun dari lisan ibunda yang menemani waktu sebelum kita tidur. Sang bunda mendongengkan kisah sejarah penuh makna tentang berbagai peristiwa masa lalu, tentang perilaku wajah-wajah manusia yang akan membentuk karakter akhlak anak.

Walaupun kita sudah sering mendengar bagaimana akibat yang diderita ketiga tokoh di atas karena kesombongan mereka, namun penyakit ini tetap ganas menyerang menelusup relung-relung hati. Sifat angkuh, serakah, dan dengki kerap muncul seiring kekuasaan yang berada dalam genggaman. Sanjungan dan berbagai pujian yang datang semakin membuat nafsu kesombongan kita terpancing, sehingga akhirnya ia bertengger di dalam dada.

Tak terasa, harta, ilmu, kedudukan sosial, raut muka cantik dan tampan ditambah bentuk tubuh ideal ditambah kepiawaian kita dalam berbicara membuat penyakit hati yang satu ini semakin bertambah kronis. Contoh nyata yang bisa kita ditemui seperti halnya para wakil rakyat yang merasa dirinya harus dihormati oleh rakyat, padahal tugasnya hanyalah mewakili rakyat. Sang wakil lebih berkuasa dari yang mewakilkan. Sungguh aneh. Para tokoh agama pun sering kali membangga-banggakan diri dan sesamanya dengan saling memuji akan tingginya ilmu yang dimiliki.(*)

 

Kategori
PESAN

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar