Studi Perbandingan Sistem Koperasi Korea Selatan dan Koperasi Jawa Timur : Pelajaran bagi Transformasi Koperasi Menuju Daya Saing Global

Studi Perbandingan Sistem Koperasi Korea Selatan dan Koperasi Jawa Timur : Pelajaran bagi Transformasi Koperasi Menuju Daya Saing Global

img-1785729653.jpg


Oleh : Krisna P.L.SE.,MBA

Staf Ahli Bidang Kerjasama Internasional 

LAPENKOPWIL - DEKOPINWIL Jawa Timur


Pendahuluan

Koperasi adalah salah satu instrumen pembangunan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui prinsip kepemilikan bersama dan demokrasi ekonomi.

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam pengembangan koperasi sejak zaman Raden Arya yang mendirikin koperasi simpan pinjam pertama di Porwokerto pada tahun 1896 hingga masa Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia yang menginstitusionalisasikan Koperasi dalam Pasal 33 UUD 1945.

Di sisi lain, Korea Selatan berhasil menjadikan koperasi sebagai salah satu penggerak utama modernisasi sektor pertanian, perikanan, dan keuangan, meskipun negara tersebut juga dikenal sebagai rumah bagi perusahaan-perusahaan besar (chaebol) seperti Samsung, Hyundai, dan LG.

Keberhasilan Korea Selatan menunjukkan bahwa koperasi tidak harus menjadi organisasi ekonomi tradisional, tetapi dapat berkembang menjadi institusi bisnis modern yang profesional, inovatif, dan berorientasi global.

Hal ini menjadi relevan bagi Jawa Timur yang merupakan salah satu provinsi dengan jumlah koperasi terbesar di Indonesia dan memiliki potensi besar pada sektor pertanian, UMKM, peternakan, serta perdagangan.

Sistem Koperasi di Korea Selatan

Koperasi terbesar di Korea Selatan saat ini adalah National Agricultural Cooperative Federation (NACF) atau lebih dikenal sebagai sebutan ‘NongHyup’ (istilah Bahasa Korea yang memiliki terjemahan lurus ‘Koperasi Pertanian’), yang berdiri sejak tahun 1961.

Saat ini, NongHyup menaungi lebih dari 1.100 koperasi anggota dengan sekitar 2 juta petani anggota. Berbeda dengan banyak koperasi di negara berkembang, NongHyup tidak hanya menjalankan fungsi simpan pinjam, tetapi juga mengintegrasikan seluruh rantai nilai pertanian, mulai dari penyediaan sarana produksi, pembiayaan, pengolahan hasil, distribusi, pemasaran, hingga ekspor. 

Selain koperasi pertanian, Korea Selatan juga memiliki koperasi perikanan (SuHyup), koperasi kehutanan, koperasi konsumen, koperasi kredit, dan koperasi usaha kecil. Keberhasilan koperasi Korea ditopang oleh tata kelola profesional, digitalisasi layanan, jaringan nasional yang kuat, serta dukungan regulasi pemerintah. 

Kondisi Koperasi di Jawa Timur

Jawa Timur merupakan salah satu pusat perkembangan koperasi di Indonesia. Koperasi berkembang pada berbagai sektor seperti: koperasi simpan pinjam, koperasi produsen, koperasi konsumen, koperasi peternakan, koperasi pertanian, koperasi pesantren, koperasi nelayan, dan koperasi UMKM.

Kontribusi koperasi terhadap perekonomian daerah cukup signifikan, terutama dalam mendukung pembiayaan UMKM, penyediaan kebutuhan pokok, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Namun, sebagian besar koperasi masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan modal, kualitas SDM, pemanfaatan teknologi digital, pemasaran, dan integrasi dengan pasar ekspor.

Analisis Perbandingan

img-1785730857.jpg

Perbedaan paling mencolok terletak pada orientasi bisnis. Koperasi Korea Selatan berperan sebagai agregator ekonomi yang mengintegrasikan seluruh proses bisnis anggota. Sebaliknya, banyak koperasi di Jawa Timur masih berfokus pada penyediaan layanan dasar bagi anggota.

Faktor Keberhasilan Korea Selatan

Beberapa faktor utama yang mendukung keberhasilan koperasi Korea Selatan antara lain:

- Manajemen profesional. 

- Digitalisasi seluruh layanan koperasi. 

- Integrasi antara sektor keuangan dan sektor riil. 

- Dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten. 

- Koperasi sebagai pusat inovasi pertanian. 

- Investasi besar pada riset dan pengembangan. 

- Kemampuan membangun merek nasional. 

- Akses langsung ke pasar ekspor. 


Peluang Transformasi Koperasi Jawa Timur

Pengalaman Korea Selatan memberikan sejumlah pelajaran yang dapat diterapkan di Jawa Timur.

Pertama, koperasi dapat dikembangkan sebagai pusat agregasi ekspor produk UMKM sehingga anggota tidak perlu mengekspor secara individual.

Kedua, koperasi dapat membangun pusat logistik bersama untuk menekan biaya distribusi.

Ketiga, koperasi perlu mengembangkan merek (branding) bersama agar produk anggota memiliki daya saing yang lebih kuat.

Keempat, digitalisasi layanan koperasi harus dipercepat melalui aplikasi keanggotaan, pembayaran digital, dan pemasaran daring.

Kelima, koperasi dapat bertransformasi menjadi pusat inkubasi bisnis yang menyediakan pelatihan, konsultasi, pendampingan, hingga akses pembiayaan bagi anggota.

Keenam, koperasi dapat menjalin kemitraan strategis dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk mendorong inovasi produk dan peningkatan produktivitas.

Model "East Java Cooperative Hub"

Mengacu pada praktik NongHyup, Jawa Timur berpeluang mengembangkan konsep East Java Cooperative Hub, yaitu sebuah ekosistem koperasi yang mengintegrasikan: pembiayaan, produksi, pengolahan, logistik, pemasaran, perdagangan digital, promosi internasional, hingga ekspor.

Model ini memungkinkan koperasi tidak hanya menjadi lembaga simpan pinjam, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang mampu meningkatkan nilai tambah produk anggota.

Kesimpulan

Studi perbandingan ini menunjukkan bahwa koperasi Korea Selatan berhasil berkembang karena mengedepankan profesionalisme, integrasi bisnis, digitalisasi, dan orientasi pasar global.

Sementara itu, koperasi di Jawa Timur memiliki potensi besar berkat jumlah anggota yang luas dan kekayaan sumber daya ekonomi daerah, namun masih memerlukan transformasi kelembagaan dan model bisnis.

Dengan mengadaptasi praktik-praktik terbaik dari Korea Selatan, koperasi Jawa Timur dapat bertransformasi menjadi organisasi ekonomi modern yang mampu meningkatkan kesejahteraan anggota sekaligus memperkuat daya saing daerah di pasar nasional maupun internasional.

Transformasi tersebut perlu dilakukan secara bertahap melalui penguatan tata kelola, digitalisasi, pengembangan SDM, dan integrasi koperasi ke dalam rantai nilai industri serta perdagangan global.(*)


Sumber : https://wartakoperasi.net/studi-perbandingan-sistem-koperasi-korea-selatan-dan-koperasi-jawa-timur-pelajaran-bagi-transformasi-koperasi-menuju-daya-saing-global-detail-464016