Pekalongan – Pekerja informal seperti pembatik, buruh konveksi, dan pekerja harian di Pekalongan dan Batang adalah salah satu nadi ekonomi kreatif di sejumlah kota di Jawa Tengah.
Kontribusi mereka dalam menumbuhkan klaster ekonomi dan lapangan pekerjaan, patut terus diberdayakan.
Kini mereka punya harapan baru, seiring kehadiran pilot project “Cooperatives as Hubs for Inclusion” , yang resmi dimulai di Hotel Dafam Pekalongan, Selasa (22/9).
Idenya sederhana tapi berdampak. Pekerja yang iuran BPJS Ketenagakerjaannya dibantu pemerintah daerah diajak menjadi anggota koperasi. Di koperasi, mereka mendapat pelatihan keterampilan, peluang sertifikasi, dan bantuan mencari kerja lewat bursa kerja koperasi. Mereka juga diajari mengelola uang dan menabung.

“Kami ingin bantuan ini menjadi awal, bukan akhir. Tahun depan, mereka diharapkan sudah mampu membayar iuran sendiri dari hasil kerja dan tabungannya di koperasi,” kata Prof. Dr. Ahmad Subagyo, penggagas program ini.
Program yang dijalankan P.U.P.U.K bersama pemerintah daerah, BPJS Ketenagakerjaan, dan koperasi lokal ini menargetkan 1.320 pekerja dalam satu tahun.
Pekalongan memang bukan kota biasa dalam dunia koperasi. Pengusaha batik Pekalongan ikut membidani GKBI pada 1948. Kospin Jasa lahir di sini pada 1973, disusul BTM pertama pada 1995 dan KOPSIM NU pada 2000.
Ada pula LKMS Kasuwari, koperasi keuangan warga yang berizin OJK. “Semoga, atas izin Allah, model koperasi pelindung pekerja ini juga lahir dari Pekalongan untuk Indonesia,” ujar Ahmad Subagyo.(*)
Sumber : https://wartakoperasi.net/pekalongan-kembali-jadi-pelopor-koperasi-kini-bantu-pekerja-informal-terlindungi-dan-mandiri-detail-464768