Koperasi yang Berdaya Berkat Pabrik Pengolah Sawit Milik Sendiri

Koperasi yang Berdaya Berkat Pabrik Pengolah Sawit Milik Sendiri


Koperasi kini telah bertransformasi dari stigma bisnis Simpan Pinjam menjadi entitas bisnis multi sektor. Pertanian, perkebunan, jasa, hingga sektor digital dengan sistem tata kelola modern dan kekinian. Meskipun begitu, sejumlah sektor ekstraktif berbasis agrikultur hilir belum sepenuhnya tergarap akibat dominasi sektor swasta dan konglomerasi. Agribisnis berbasis sawit, misalnya, perlu intensifikasi dengan pelaku utama kalangan koperasi. 

Koperasi Unit Desa (KUD) Sejahtera di Desa Beruge, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), ibarat rinai hujan di tengah kemarau. Mereka berhasil membangun pabrik CPO (crude palm oil) di tengah kepungan pabrikan besar yang mendominasi industri pengolahan sawit selama puluhan tahun. 

Sigap menampung Tandan Buah Segar (TBS) dari para petani sawit atau anggota koperasi, lantas diolah menjadi CPO dan produk  lain bernilai tambah tinggi. Sebelumnya, para petani menjual putus TBS ke industri pengolahan non koperasi. 

Pabrik pengolahan CPO ini diresmikan oleh Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono bersama Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman pada Rabu (12/8) lalu. Salah satu sinyal kuat bahwa koperasi sangat layak dan potensial disejajarkan dengan badan usaha lainnya seperti swasta atau BUMN.

Disaksikan koperasi-koperasi dari wilayah lain yang bergerak di sektor perkebunan, peresmian pabrik pengolahan CPO dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp 100 miliar dengan kapasitas olah TBS sekitar 45 ton per jam untuk menjadi CPO. 

"Alhamdulillah hari ini bisa hadir melihat langsung pabrik kelapa sawit atau CPO yang dimiliki oleh KUD Sejahtera. Pabrik kelapa sawit ini akan menjadi contoh, yang nanti akan kita replikasi di daerah lain," kata Menkop Ferry. 

Keberadaan pabrik ini membawa perubahan besar bagi anggota koperasi dan para petani sawit. Pendapatan mereka dipastikan meningkat. Produksi TBS petani terjamin penyerapannya dengan harga yang pasti. Dan sebagaimana koperasi yang sehat, pada akhir tahun buku, anggota yang mayoritas adalah petani sawit akan mendapat benefit berupa SHU (sisa hasil usaha) dari bisnis CPO ini.

KUD Sejahtera saat ini menghimpun lebih dari 1.500 anggota dengan luas kebun 3.074 hektare. Sekitar 76 persen pasokan bahan baku pabrik berasal dari kebun anggota sendiri. Artinya, koperasi memiliki kendali penuh atas rantai pasok sekaligus jaminan keberlanjutan produksi.

Menkop Ferry mengemukakan, pabrik ini bisa menjadi role model hilirisasi sawit berbasis koperasi yang dapat direplikasi di daerah lain. Semakin banyak koperasi yang mampu membangun pabrik pengolahan CPO, maka peluang untuk membangun refinery (kilang minyak goreng) semakin besar. Kedepan, koperasi dapat memproduksi produk turunan berbasis sawit yang lebih kompleks seperti biodiesel hingga oleokimia.

"Tahun ini kita targetkan sekitar 20 koperasi yang dapat mendaftar untuk mendirikan pabrik CPO," kata Menkop.

Peluang tersebut sangat terbuka. Terlebih saat ini terdapat komitmen dari PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) yang siap menitipkan pengelolaan lahan sawit hasil sitaan dari Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) kepada koperasi. 

"Semakin banyak koperasi yang punya pabrik, maka bisa bangun refinery, sehingga bisa memproduksi minyak goreng sendiri yang nantinya bisa bisa dijual ke KDKMP," imbuh Ferry.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru yang turut hadir dalam peresmian pabrik CPO oleh KUD Sejahtera memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian KUD Sejahtera. 

"Selamat kepada KUD Sejahtera, ini harus betul-betul dikelola dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat, terutama petani. Harus ada pengaruhnya, nilai kesejahteraan anggota semakin tinggi dan kemajuan koperasi semakin nyata,” papar Dudung.

Jalan Panjang KUD Sejahtera Miliki Pabrik Sendiri 

Perjalanan KUD Sejahtera hingga berhasil memiliki pabrik pengolahan CPO bukanlah kisah instan. Pabrik ini dibangun dari rangkaian mimpi, jatuh bangun, dan tekad kolektif yang dirajut sejak awal 1980-an. 

Lahir pada tahun 1984, KUD Sejahtera tumbuh di tengah iklim gerakan koperasi yang kala itu memasuki musim semi. 

Perjalanan awal penuh tantangan. Titik balik terjadi pada 1995 ketika koperasi ini memperoleh Kredit Koperasi Primer untuk Anggotanya (KKPA). Ini modal awal pembangunan kebun plasma pertama. 

Siklus berikutnya, bantuan dari BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit / BPDPKS) memungkinkan replanting kebun dan revitalisasi kantor serta fasilitas koperasi. 

Memasuki 2018–2019, Thamrin sebagai Ketua KUD Sejahtera saat itu, mulai membayangkan sesuatu yang lebih besar: sebuah pabrik pengolahan CPO milik koperasi. Namun ia sadar, mimpi itu hanya bisa diwujudkan jika kebun terlebih dahulu ditata dengan baik. 

Pada 2020, penanaman kebun dilakukan secara intensif. Dua tahun kemudian, mimpi itu semakin nyata. Melalui rapat anggota, ide pendirian pabrik disepakati secara bertahap, dan modal dikumpulkan sedikit demi sedikit. 

“KUD bisa berkembang dan tumbuh sampai ke hilir. Minimal sampai pada tahap pengolahan CPO melalui pendirian pabrik. Keyakinan itu terus kita sampaikan ke anggota (Koperasi),” ujar Thamrin berkisah.

Kini, pabrik yang berdiri berkat pasokan hasil kebun seluas 3.074 hektare, ditambah hampir 6.000 hektare hasil kebun dari mitra, menjadi simbol kemandirian anggota. 

Pabrik bukan milik segelintir orang, melainkan benar-benar milik anggota. Setiap TBS yang masuk ke jalur produksi, adalah hasil kerja keras petani plasma, yang kini menikmati kepastian harga, kepastian penjualan, dan kepastian distribusi. Rata-rata pendapatan mereka naik hingga 30 persen.

Selain CPO sebagai produk andalan, pengelolaan limbah sisa olahan sawit juga menjadi perhatian. Tandan kosong diolah menjadi kompos, cangkang sawit menjadi biochar, dan limbah cair diubah menjadi biogas. 

Semua itu bukan hanya menambah nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat komitmen koperasi terhadap keberlanjutan .Thamrin menegaskan, mimpi hilirisasi hingga minyak goreng tetap ada, meski harus menunggu regulasi dan modal tambahan.

Ia menegaskan keberadaan pabrik ini membawa dampak nyata bagi anggota. Selain hasil kebun yang kini bisa mencapai belasan juta rupiah per bulan, koperasi juga membagikan dividen dari keuntungan pabrik. 

Dalam enam bulan pertama saja, dividen mencapai hampir Rp 6 miliar, angka yang menunjukkan betapa besar potensi usaha kolektif ini. “Dividen ini terpisah dari SHU, dan akan dibagikan ke anggota di akhir tahun,” jelas Thamrin.

Anggota KUD Sejahtera Yoga Pratama, mengaku bersyukur menjadi bagian dari perjalanan koperasi sehingga memiliki pabrik pengolahan CPO sendiri. Sebelum bergabung menjadi salah satu karyawan di pabrik, ia merupakan petani kelapa sawit plasma. Sebagai petani sawit ia merasakan sulitnya mendapatkan pembeli TBS dengan harga yang menguntungkan. Setelah bergabung dengan KUD Sejahtera semua kepastian harga hingga kemudahan bongkar menjadi lebih nyata.

"Saya berharap kedepan KUD Sejahtera terus berkembang dan maju dan bisa lebih banyak merekrut karyawan dari warga sekitar sini agar dampak ekonominya kian nyata," harapnya.(*) 

(Sumber : E-Magz Warta Koperasi Kementerian Koperasi RI)

Sumber : https://wartakoperasi.net/koperasi-yang-berdaya-berkat-pabrik-pengolah-sawit-milik-sendiri-detail-465046