Konsisten Gerakkan Koperasi Indonesia, Prof Ahmad Subagyo Raih Penghargaan Tokoh Akademik Koperasi

Konsisten Gerakkan Koperasi Indonesia, Prof Ahmad Subagyo Raih Penghargaan Tokoh Akademik Koperasi

img-1785544827.jpg

PEKALONGAN — Nama Prof. Dr. H. Ahmad Subagyo, SE., MM., CRBD., CSA., CRP., CDMP. sudah tidak asing di telinga para penggerak koperasi Indonesia.

Kamis (30/7) malam, menjadi momen spesial dalam kiprah pakar koperasi dan keuangan mikro asal Pekalongan itu, menerima piagam penghargaan sebagai Tokoh Bidang Akademik Koperasi dari DEKOPINWIL Jawa Tengah dalam peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tingkat provinsi yang digelar di Gedung Pusdiklat Kospin Jasa Pekalongan.

Penghargaan ditandatangani Ketua DEKOPINWIL Jateng, Assoc. Prof. Dr. Walid, S.Pd., M.Si., berdasarkan Surat Keputusan Nomor KEP/016/11.00-L/VII/2026 tertanggal 29 Juli 2026.

Bersama tiga tokoh lain — H. Andy Arslan Djunaid, SE. (Bidang Keuangan Koperasi), Achmad Afzan Arslan Djunaid, SE., MM. (Bidang Pemerintahan), dan H. Samsul Ridwan, SH., MH. (Bidang Penegak Hukum Koperasi) — Prof. Subagyo masuk dalam daftar penerima penghargaan "Tokoh Penggerak Koperasi Bidang Kepakaran di Jawa Tengah Tahun 2026".

H. Basir, S.H., Ketua DEKOPINDA Kota Pekalongan, mengungkapkan, bahwa pemilihan keempat tokoh didasarkan pada kontribusi nyata mereka. "Khusus Pak Subagyo, beliau ini anak Pekalongan yang kiprahnya di bidang koperasi sudah sampai ke tingkat nasional. Layak banget dapat penghargaan ini," ujar H. Basir.

Pandangan dan Inovasi: Bukan Sekadar Teori, Tapi Praktik Nyata

Prof. Subagyo dikenal memiliki pemikiran khas dibandingkan dengan kebanyakan akademisi. Diantaranya adalah kemampuannya dalam menerjemahkan teori menjadi praktik yang berdampak.

Lahir di Pekalongan, 12 Februari 1972, Guru Besar Ilmu Manajemen berdasarkan SK Mendikbudristek No. 23867/M/07/2023 ini memilih jalur "akar rumput" — mendirikan lembaga, menginisiasi koperasi, menulis buku, sekaligus turun langsung mendampingi masyarakat. Inilah yang membuatnya dijuluki "professor yang turun ke sawah".

Manajemen Sampah Berbasis Koperasi Multipihak: Dari Jatinangor Menuju Nasional

Salah satu inovasi paling menarik dari Prof. Subagyo adalah konsep manajemen pengelolaan sampah berbasis koperasi multipihak. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) LPPM Universitas Muhammadiyah Jakarta, beliau menginisiasi pembentukan Koperasi Multi Pihak (KMP) Komunitas Peduli Sampah di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Model ini mengintegrasikan masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas dalam satu wadah koperasi yang sah secara hukum untuk mengelola sampah secara terpadu.

Konsep yang ditawarkan Prof. Subagyo cukup revolusioner: sampah rumah tangga tidak lagi dibuang, tetapi dijadikan "tabungan" dalam sistem bank sampah yang dikelola koperasi jasa.

Setiap kaleng, plastik, kertas, dan limbah yang dipilah serta disetorkan warga menjadi saldo yang bisa diuangkan atau ditukar kebutuhan harian.

Dengan koperasi sebagai badan hukum, perputaran nilai ekonomi hasil pengolahan sampah dapat dicatat rapi, Sisa Hasil Usaha (SHU) dibagi sesuai proporsi tabungan, serta akses kredit dari luar bisa didapat dengan mudah. 

Program yang diujicoba di Jatinangor ini menggunakan teknologi pengolahan sampah terintegrasi (Evowaste) dengan konsep zero waste. Hasilnya, volume sampah yang dikirim ke TPA berkurang 25-30 persen. Pelatihan dilakukan bertahap: manajemen bank sampah pada 8 Agustus 2025, dilanjutkan manajemen perkoperasian komunitas sampah pada 29 Agustus 2025.

Bank sampah yang bertransformasi menjadi koperasi multipihak di Jatinangor kini siap menjadi teladan nasional dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis komunitas dan digitalisasi. Konsep ini juga telah terangkum dalam buku yang ditulis Prof. Subagyo, sehingga dapat direplikasi oleh daerah lain.

K3PR: Payung Koperasi Karyawan Industri Pekalongan Raya

Di Kota Pekalongan yang dikenal sebagai pusat industri tekstil dan batik, Prof. Subagyo melihat ada celah yang perlu dijembatani: kesejahteraan karyawan industri. Banyak koperasi karyawan pabrik yang mati suri atau dibubarkan saat pabrik bangkrut, seperti yang terjadi pada koperasi karyawan Pismatex, Dupantex, dan Putra Mandiri.

Dari keprihatinan inilah, beliau menginisiasi pendirian Koperasi Konsumen Karyawan Pekalongan Raya (K3PR) — sebuah koperasi konsumen yang menjadi payung bersama bagi karyawan industri di wilayah Pekalongan Raya.

K3PR dirancang agar karyawan industri tidak bergantung pada satu pabrik tertentu. Dengan model koperasi konsumen lintas industri, anggota dari berbagai perusahaan dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau, sekaligus memiliki simpanan dan jaringan ekonomi yang tetap bertahan meskipun pabrik tempat mereka bekerja mengalami masalah. Inilah bentuk perlindungan ekonomi berbasis koperasi yang relevan dengan realitas industri di Pekalongan Raya.

Food Bank Indonesia: Bank Makanan Berbasis Gotong Royong yang Terus Berjalan

Inovasi terbaru Prof. Subagyo yang langsung menyentuh masyarakat rentan adalah Food Bank Indonesia di Pekalongan. Berbasis di Gedung Kasuwari Lt. 2, Jl. Untungsuropati No. 42 Tegalrejo, Pekalongan Barat, Food Bank ini telah berjalan sejak 20 Mei 2026 dan hingga kini masih aktif.

Dalam waktu kurang dari dua bulan, gerakan yang berawal dari satu dapur mitra kini telah bekerja sama dengan lebih dari tiga dapur dan melayani lebih dari 100 paket pangan per hari bagi masyarakat yang membutuhkan.

Food Bank Indonesia mengajak koperasi, hotel, restoran, hingga kantor pemerintahan bergabung menjadi mitra donatur dalam kanal yang legal, akuntabel, dan transparan.

Model ini berbasis gotong royong — mengumpulkan kelebihan pangan dari berbagai sumber, lalu mendistribusikannya kepada masyarakat rentan. Hanya lima hari setelah berdiri, Food Bank sudah membagikan makanan kepada penghuni Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kota Pekalongan.

Koperasi konsumen, koperasi karyawan, koperasi unit desa, hingga koperasi penyedia jasa boga, dapat memainkan peran strategis baik sebagai donatur maupun mitra distribusi.

Kontribusi Lintas Sektor: Dari IMFEA Sampai KDKMP

Di luar ketiga inovasi tersebut, Prof. Subagyo memiliki daftar panjang kontribusi. Tahun 2017, beliau mendirikan YAKKIN di Pekalongan dan mendeklarasikan IMFEA di Kuala Lumpur.

Melalui IMFEA Publishing, beliau memprakarsai penerbitan JKEKI dan JIMS. Lewat PT. ISSO, beliau mendampingi lebih dari 20 koperasi untuk digitalisasi dengan platform core banking berbasis cloud.

Beliau juga mendirikan Kasuwari (koperasi open loop diawasi OJK), Koperasi Konsumen Barokah Rezeki di Tegal, ADEKMI (2022), dan AKPI (2026). Sebagai master trainer KDKMP, beliau menyusun buku "Mengenal Koperasi Merah Putih". Lebih dari 10 buku dan 10 HKI telah dihasilkannya dalam satu dekade.

Harkopnas 79: Apresiasi yang Memotivasi

H. Basir menutup penjelasannya dengan harapan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi. "Kita bangga Pekalongan dipercaya jadi tuan rumah Harkopnas tingkat provinsi. Ini bukti bahwa koperasi di Pekalongan hidup dan terus berkembang. Semoga penghargaan ini jadi motivasi buat semua penggerak koperasi, terutama generasi muda, untuk terus berkontribusi."

Prof. Subagyo sudah pernah menerima Penghargaan Bhakti Koperasi 2019 dari Menteri Koperasi dan UKM RI. Saat ini Prof Subagyo menjabat sebagai Wakil Rektor III IKOPIN University, Komisaris Independen PT. Asuransi Takaful Umum dan PT. Akulaku Finance Indonesia, serta Ketua Umum IMFEA periode 2023-2027.

Kisah Prof. Ahmad Subagyo membuktikan bahwa akademisi koperasi tidak harus berdiam di menara gading. Dari pengelolaan sampah berbasis koperasi multipihak di Jatinangor, payung koperasi karyawan industri di Pekalongan Raya, sampai bank makanan berbasis gotong royong — semuanya lahir dari kepekaan terhadap masalah nyata dan keberanian mengubahnya menjadi solusi kelembagaan.

Inilah wajah koperasi masa depan: berbasis komunitas, berorientasi digital, dan berakar pada nilai gotong royong. ( H. Basir, S.H./DEKOPINDA Kota Pekalongan).

Sumber : https://wartakoperasi.net/konsisten-gerakkan-koperasi-indonesia-prof-ahmad-subagyo-raih-penghargaan-tokoh-akademik-koperasi-detail-463996