Food Bank Indonesia (FBI) Pekalongan, inisiatif sosial-kemanusiaan berbasis syariah yang dikelola Yayasan Kemandirian Perkoperasian Indonesia (YAKKIN), menggelar pelatihan fundraising bagi para relawannya. Kegiatan ini menandai pertemuan penting antara semangat koperasi dan filantropi syariah dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Sabtu, 22 Agustus 2026, sebanyak 20 peserta mengikuti Pelatihan Fundraising bagi Relawan Food Bank Indonesia (FBI) Pekalongan di Kantor FBI, Jalan Khusni Tamrin Nomor 72, Pringrejo, Kota Pekalongan. Kegiatan berlangsung pukul 08.30 hingga 16.00 WIB dan diikuti oleh empat pengurus food bank, enam relawan aktif, dua pengurus Yayasan YAKKIN, serta sejumlah mahasiswa yang tertarik menekuni dunia filantropi.
Komposisi peserta ini mencerminkan ekosistem yang ingin dibangun FBI: pertemuan pengelola koperasi, relawan lapangan, pengurus yayasan, dan generasi muda dalam satu ruang pembelajaran.
Dua narasumber praktisi fundraising, Sdr. Firman dan Supardiana, memandu peserta melalui lima modul yang disusun berjenjang dan aplikatif.
Modul pertama membahas filosofi dan regulasi fundraising filantropi syariah, mencakup konsep zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai instrumen ketahanan pangan, dengan rujukan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan Peraturan BAZNAS Nomor 3 Tahun 2018.
Modul ini menegaskan bahwa penggalangan dana syariah bukan sekadar mencari dukungan finansial, melainkan menjaga amanah dan ketepatan peruntukan setiap rupiah yang diamanatkan muzaki dan donatur.
Sebagai inisiatif yang dikelola YAKKIN — sebuah yayasan dengan akar pemikiran koperasi dan kemandirian — FBI Pekalongan memandang fundraising sebagai bagian dari penguatan ekosistem filantropi-koperasi.
Ketua pelaksana dalam sambutannya menegaskan bahwa relawan bukan hanya pelaksana lapangan, tetapi duta penggalangan dana yang menjembatani niat baik donatur dengan kebutuhan nyata masyarakat rentan. Dengan pembekalan yang memadai, relawan diharapkan mampu berperan sebagai fundraiser yang kompeten, amanah, dan berdaya guna bagi keberlanjutan program.
Konteks Pekalongan memperkuat urgensi pelatihan ini. Lebih dari 21.000 penduduk Kota Pekalongan masih berada di bawah garis kemiskinan, dengan wilayah rawan banjir rob seperti Panjang, Krapyak, Degayu, dan Bandengan yang memperbesar kerentanan pangan warga.
Di sisi lain, 22 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau SPPG di kota ini berpotensi menghasilkan surplus pangan layak konsumsi yang belum sepenuhnya terserap. FBI hadir menjembatani kedua kondisi tersebut melalui program penyelamatan dan redistribusi pangan yang transparan dan akuntabel sejak 20 Mei 2026.
Modul kedua dan ketiga memfokuskan peserta pada strategi dan kanal fundraising modern. Peserta mempelajari segmentasi donatur — individu, korporat melalui tanggung jawab sosial perusahaan, komunitas masjid dan majelis taklim, hingga filantropi digital.
Mereka juga dilatih penguasaan digital fundraising melalui aktivasi kampanye di media sosial, crowdfunding, serta pemanfaatan WhatsApp dan email marketing untuk membangun hubungan jangka panjang dengan donatur. Praktik baik dari lembaga amil zakat dan platform crowdfunding nasional dijadikan rujukan dalam merancang program donasi yang menarik.
Pada sesi digital storytelling, peserta diperkenalkan formula CARS — Context, Action, Result, Storytelling — untuk menyusun narasi kampanye yang menggugah dan autentik. Teknik dokumentasi foto dan video pendek yang positif dipraktikkan langsung, agar setiap relawan mampu mengemas kisah pemberdayaan tanpa menjual air mata, melainkan membangun empati dan kepercayaan.
Modul keempat menyentuh aspek manajemen relawan, etika penggalangan dana, dan transparansi pelaporan, sementara modul kelima memberi ruang praktik dan simulasi penyusunan proposal serta pitching ajakan donasi kepada calon donatur.
Salah satu peserta, seorang mahasiswa Hubungan Internasional, menyebut pelatihan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana komunikasi dan jejaring menjadi kunci dalam kerja-kerja kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa menjadi relawan fundraising berarti memikul tanggung jawab menjaga amanah donatur sekaligus memastikan bantuan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.
Bagi para pengurus YAKKIN yang hadir, pelatihan ini juga menjadi ajang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai koperasi — gotong royong, kemandirian, dan kebersamaan — dapat diterjemahkan ke dalam praktik filantropi modern.
Kolaborasi antar elemen peserta menjadi salah satu kekuatan pelatihan ini. Pengurus food bank membawa pengalaman operasional lapangan, relawan menyumbang dinamika harian distribusi, pengurus yayasan menambahkan perspektif tata kelola, dan mahasiswa membawa energi serta literasi digital.
Perpaduan ini relevan dengan semangat koperasi yang menempatkan kebersamaan sebagai modal utama. FBI Pekalongan berharap jaringan relawan terlatih ini menjadi tulang punggung kampanye penggalangan dana berkelanjutan yang tidak hanya mengandalkan satu sumber, melainkan beragam dan tahan risiko.
Ke depan, FBI Pekalongan berencana memperluas kerja sama dengan koperasi, lembaga amil zakat, korporasi, dan komunitas masjid untuk memperkuat basis pendanaan. Model ini sejalan dengan tren filantropi Indonesia yang semakin bergeser ke arah kolaborasi lintas sektor.
Bagi koperasi dan yayasan yang ingin berkontribusi pada ketahanan pangan, FBI membuka pintu kemitraan yang terstruktur, mulai dari program donasi rutin, pemanfaatan surplus pangan, hingga pendampingan kelompok binaan.
Dengan demikian, semangat koperasi tidak hanya hidup di ruang pengurus, tetapi mengalir menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.
Pelatihan ini menegaskan satu pesan utama: ketahanan pangan tidak bisa dibangun sendirian. Dibutuhkan relawan terlatih, donatur yang percaya, dan kolaborasi antar lembaga yang sehat. FBI Pekalongan, dengan dukungan YAKKIN dan jaringan koperasi, berupaya menjadi simpul dari semangat itu — menjadikan setiap piring pangan yang diselamatkan sebagai bukti bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan yang nyata di tengah kota.
Bagi gerakan koperasi, pelatihan semacam ini membawa pelajaran strategis. Koperasi dan yayasan yang berakar pada prinsip kemandirian dan gotong royong memiliki modal sosial yang besar untuk terlibat dalam kerja filantropi. Namun, modal sosial itu perlu ditemani dengan kapasitas teknis — mulai dari kemampuan menyusun proposal, mengelola relasi donatur, hingga melaporkan dampak secara terbuka. FBI Pekalongan mencoba menjawab kebutuhan itu dengan membangun relawan yang tidak hanya bersemangat, tetapi juga terampil dan amanah.
Salah satu daya tarik model FBI adalah kemampuannya menghubungkan dua realitas yang sering berjalan terpisah: surplus pangan di dapur MBG di satu sisi, dan kebutuhan pangan keluarga rentan di sisi lain. Dengan perantara relawan terlatih, pangan yang seharusnya terbuang dapat diselamatkan dan diarahkan kepada mereka yang paling membutuhkan.
Model ini relevan untuk direplikasi oleh koperasi-koperasi di kota lain yang menghadapi dinamika serupa, sehingga pelatihan di Pekalongan bisa menjadi rujukan praktik baik di tingkat nasional.
Dari sisi tata kelola, FBI Pekalongan berupaya membangun standar yang dapat dipertanggungjawabkan. Setiap dana yang dihimpun diharapkan tercatat, terperinci peruntukannya, dan dilaporkan secara berkala kepada donatur.
Prinsip ini sejalan dengan semangat koperasi yang mengedepankan transparansi dan partisipasi anggota. Dengan demikian, donatur tidak hanya memberi, tetapi juga memahami bagaimana setiap rupiahnya dimanfaatkan dan dampak apa yang dihasilkan.(*)
AJAKAN: Jadilah Relawan dan Donatur Food Bank Indonesia
Setiap pangan yang Anda selamatkan adalah harapan bagi keluarga dhuafa. Daftarkan diri Anda sebagai relawan atau salurkan donasi melalui :
www.foodbankindonesia.com, formulir pendaftaran https://forms.gle/3hpXpTvx3M7YqT2e6, atau hubungi 0877-7740-6734 / 0815-6387-3416.
Bersama menjaga ketahanan pangan dan berbagi kebaikan untuk mereka yang membutuhkan.