
Oleh : Krisna P. L. MBA
Staf Ahli Bidang Kerja Sama Internasional
LAPENKOP – DEKOPINWIL Jawa Timur
Perbandingan dedikasi riset dan pengembangan (R&D) antara Indonesia dan Tiongkok menunjukkan jurang yang sangat lebar.

Tiongkok membelanjakan sekitar 3,93 triliun yuan atau setara Rp13.000 triliun lebih untuk R&D pada 2025, setara 2,80 persen dari produk domestik brutonya, dan angka ini bahkan telah melampaui rata-rata negara-negara OECD untuk pertama kalinya.
Sebaliknya, belanja riset nasional Indonesia masih berkutat di kisaran 0,23 hingga 0,3 persen PDB, jauh di bawah Malaysia yang sudah mencapai 1,15 persen.
Selisih ini bukan hanya soal nominal, tetapi juga soal siapa yang membiayai.
Di Tiongkok, sektor industri menjadi penyumbang terbesar belanja riset karena perusahaan-perusahaannya bersaing di pasar global yang menuntut inovasi terus-menerus, sementara di Indonesia porsi terbesar justru berasal dari perguruan tinggi yang anggarannya lebih banyak terserap untuk operasional dan gaji ketimbang eksperimen dan pengembangan produk.
Perbedaan ini pada akhirnya tercermin pada hasil. Tiongkok kini menjadi investor R&D terbesar kedua di dunia, memimpin produksi robot industri, kendaraan listrik, dan teknologi digital, serta untuk pertama kalinya masuk sepuluh besar Global Innovation Index versi WIPO.
Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan cita-cita menjadi negara maju pada 2045, masih tertahan pada tahap awal pembangunan ekosistem risetnya, meski pemerintah mulai menunjukkan komitmen baru lewat penambahan anggaran riset nasional dan konsolidasi lembaga di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tantangan Indonesia bukan sekadar menaikkan angka belanja, melainkan mengubah struktur insentif agar dunia usaha ikut terdorong berinvestasi dalam riset, sebagaimana terjadi di Tiongkok.
Pendidikan dan R&D adalah dua sisi mata uang yang sama. Tanpa pendidikan yang kuat, tidak akan lahir sumber daya manusia yang mampu melakukan riset berkualitas; dan tanpa R&D, ilmu yang dihasilkan dari pendidikan akan berhenti sebagai teori tanpa pernah menjadi produk, teknologi, atau solusi nyata bagi masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan: pendidikan mencetak periset dan inovator, sementara R&D memberi ruang bagi mereka untuk menguji, mengembangkan, dan menghilirkan gagasan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi dan sosial.
Negara yang mengabaikan salah satu dari keduanya akan sulit keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah, betapapun besar potensi sumber dayanya.
Investasi pada pendidikan adalah agen perubahan yang mengubah wajah dan bahkan Nasib suatu bangsa.
Pendidikan yang baik melahirkan tenaga kerja terampil, pemikir kritis, dan wirausahawan yang berani berinovasi.
Ketika kualitas manusia meningkat, dunia usaha ikut bertransformasi karena mendapat pasokan talenta yang mampu menciptakan produk dan layanan bernilai tambah tinggi, bukan sekadar mengandalkan bahan mentah atau upah murah.
Bisnis yang lebih maju pada gilirannya membuka lapangan kerja berkualitas, meningkatkan pendapatan, dan memperluas basis pajak negara.
Pada akhirnya, rantai ini bermuara pada kesejahteraan yang lebih luas dan merata, karena kemajuan yang lahir dari investasi pendidikan tidak berhenti di segelintir perusahaan besar, melainkan menyebar ke seluruh lapisan ekonomi.
Semangat R&D ini seharusnya juga menyentuh koperasi, bukan hanya korporasi besar.
Koperasi selama ini lebih banyak dikelola dengan pendekatan konvensional: mengandalkan pengalaman dan kebiasaan, bukan riset tentang model bisnis, teknologi pengelolaan, atau strategi pemasaran yang lebih efektif.
Padahal koperasi menghadapi tantangan nyata yang membutuhkan solusi berbasis riset, mulai dari efisiensi rantai pasok, digitalisasi layanan anggota, hingga model pembiayaan yang lebih inklusif.
Sayangnya, upaya R&D di badan-badan pengembangan koperasi di Indonesia belum begitu terasa gaungnya.
Anggaran riset, jika ada, sering kali kalah prioritas dibanding kebutuhan operasional harian, sehingga koperasi tertinggal dalam hal inovasi dibandingkan sektor usaha lain yang lebih dahulu menyadari pentingnya riset dan pengembangan.
Karena itu, mari bersama membangun R&D untuk pengembangan koperasi.
Koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan instrumen langsung bagi penguatan ekonomi rakyat, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Ketika koperasi diperkuat dengan riset yang serius, mulai dari tata kelola, teknologi, hingga model bisnis yang relevan dengan kebutuhan anggotanya, dampaknya akan terasa langsung pada peningkatan pendapatan dan daya saing rakyat di akar rumput.
Ekonomi rakyat yang tumbuh kuat pada akhirnya menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih merata dan berkelanjutan, karena kemajuan tidak lagi hanya bertumpu pada korporasi besar, tetapi juga pada jutaan anggota koperasi di seluruh penjuru negeri.
Kesimpulan
Perbandingan Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan R&D menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak datang secara kebetulan, melainkan hasil dari komitmen jangka panjang terhadap riset dan pendidikan.
Tiongkok membuktikan bahwa investasi R&D yang konsisten mampu mengubah struktur ekonomi dan mengangkat posisi sebuah negara di panggung global. Indonesia, dengan segala potensi dan tantangannya, perlu mengambil pelajaran ini secara menyeluruh, tidak hanya pada level korporasi dan kebijakan makro, tetapi juga pada level akar rumput seperti koperasi. Sebab pada akhirnya, kemajuan sejati sebuah bangsa diukur bukan hanya dari besarnya perusahaan-perusahaan raksasanya, melainkan dari sejauh mana ekonomi rakyatnya turut tumbuh dan berdaya.(*)
Keterangan Foto:
Gedung ACFSMC (All-China Federation of Supply and Marketing Cooperatives) yang merupakan kantor pusat organisasi koperasi Tiongkok yang memiliki Badan Penelitian Pengembangan (R&D) yang bertugas untuk terus menelurkan inovasi inovasi baru pengembangan koperasi di Tiongkok.